Oleh: ibnususanto | 22 Mei 2009

SERIKAT PEKERJA DAN MAY DAY (SINGKAT)

REVIEW SINGKAT TENTANG SERIKAT PEKERJA
Sesuai dengan Undang-Undang RI No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang diputuskan oleh persetujuan bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat RI dan Presiden RI yang dimaksud dengan Serikat Pekerja adalah Organisasi yang dibentuk dari, oleh, dan untuk pekerja/buruh baik di perusahaan maupun di luar perusahaan, yang bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis, dan bertanggungjawab guna memperjuangkan, membela serta melindungi hak dan kepentingan pekerja/buruh serta meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya.

Dari definisi tersebut jelas kiranya sifat dan tujuan dari organisasi serikat pekerja.

Dalam hubungan industrial antara pengusaha dan pekerja, biasanya pengusaha diwakili oleh manajemen dan para pekerja diwakili oleh serikat pekerja, hubungan ini melibatkan proses negosiasi dan konsultasi secara kolektif.
Proses negosiasi ditandai dengan kedua belah pihak berhak memberi input untuk suatu keputusan dan keputusan merupakan tawar-menawar antara kedua belah pihak.

Sedangkan proses konsultasi ditandai dengan pandangan-pandangan Serikat Pekerja diminta oleh manajemen untuk membuat keputusan/kebijakan.

Kebebasan berserikat dan berkumpul adalah hak setiap manusia sebagai makhluk tuhan, dan dilindungi dengan undang-undang baik secara nasional (UUD 1945 pasal 28) maupun internasional (Konvensi ILO No.87/1948, No.98/1949 dan Hak Azasi Manusia 1948).

Bahkan untuk menjamin kebebasan berserikat bagi pekerja, pemerintah telah mensyahkan Undang-Undang No.21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh.

Jadi organisasi Serikat Pekerja merupakan wujud kepedulian setiap warga negara dengan penuh kesadaran dan kebersamaan, untuk menyatukan persepsi dan visi misi dalam mewujudkan kebebasan berserikat dan berkumpul untuk mencapai tujuannya.

SEJARAH MAY DAY (Hari Pekerja/Buruh Internasional, 1 Mei)
Setelah revolusi Industri di Inggris dan Perancis pada abad 18, muncul masyarakat baru yang disebut masyarakat kapitalis. Penindasan dan pemerasan terhadap Pekera/buruh sedemikian kejamnya sehingga buruh hanya bisa bekerja untuk makan hari ini, sekedar mempertahankan hidupnya agar bisa bekerja pada esok harinya. Akibat pemerasan dan penindasan yang terus berlanjut itu muncul perlawanan buruh ditingkat pabrik, tuntutannya berkisar pada pengurangan jam kerja.

Pada 1791 di Philadelphia, Tukang kayu melakukan pemogokan menuntut 10 jam kerja sehari. Di Chicago pada 1 Mei sekitar 90 ribu orang buruh berdemostrasi di jalan dan 40 ribu melakukan pemogokan ditempatnya bekerja, dua hari kemudian (3 Mei) Polisi membubarkan demostrasi ini dengan kekerasan yang menyebabkan 6 orang buruh tewas dan pada saat yang sama di New York sekitar 10 ribu orang melakukan long march menuju Union Square.

Keesokan harinya (4 Mei) tanpa mengenal rasa takut, buruh kembali melakukan long march menuju Haymarket Square di Chicago. Dalam aksi damai tersebut, tiba-tiba Polisi melemparkan bom ketengah-tengah barisan demonstran, sehingga mengakibatkan 8 orang buruh tewas dan 200 orang buruh luka-luka. Tragedi ini kemudian dikenal dengan nama “Chicago Fight”. Tak lama berselang, pada 1 Mei 1890 demostrasi massal memperingati May Day berlangsung di AS dan di banyak Negara Eropa.

Salah seorang Pejuang Buruh yang saat itu melakukan aksi bersama dengan setengah juta buruh di Hyde Park London, menulis: “ Ketika saya menulis ini, buruh-buruh di Eropa dan Amerika sedang menunjukkan kekuatannya, mereka memobilisasi untuk pertama kalinya dalam satu balatentara, dibawah satu bendera, dan berjuang untuk satu tuntutan mendesak: 8 jam kerja sehari”.

Dari sinilah maka setiap 1 Mei diperingati sebagai hari Buruh Internasional. Hidup Buruhh !!

Sumber: UU Ketenagakerjaan & Materi Pelatihan Serikat Pekerja/Buruh
About these ads

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: